Stay after Knowing

Stay after Knowing.jpg

“I wonder if people will stay after knowing your Truth.”

 

Every single person must be have at least one Truth that covering them with the darkness, some are called Sin, none are perfect. But would you imagine, what happen when they know one or even more about your Truth. Will they disgust with you or still accept the way you are, 90% of it, it first choice & leave.

Story & Truth

story-truth

Story & Truth

 

Don’t you know, every life tell a story,
(Apakah kau tidak tahu, setiap kehidupan menceritakan kisah,)
Either it fairy tale or it real one,
(Entah itu dongeng atau nyata,)
No one will wonder which one,
(Tidak ada yang akan heran yang mana,)
When you tell the truth,
(Ketika kau memberitahu kebenaran,)
And smile afterward.
(Dan tersenyum setelahnya.)

.

Don’t you know something,
(Apa kau tidak tahu sesuatu,)
That every person have own story,
(Bahwa setiap orang memiliki cerita sendiri,)
And from those story, they have one thing similar,
(Dan dari cerita mereka, mereka memiliki satu hal yang sama,)
“Untold sacrifices are never valued,
(“Pengorbanan yang tak diceritakan tidak pernah dihargai,)
And told sacrifices are never believe.”
(Dan pengorbanan yang diceritakan tidak pernah dipercaya.”)

.

You know it all the time,
(Kau tahu itu sepanjang waktu,)
Not every lie telling a lie,
(Tidak setiap kebohongan berbohong,)
Cause not all pain you have can be hidden.
(Menyebabkan tidak semua kepedihan yang kau miliki dapat disembunyikan.)
Not every truth telling the truth,
(Tidak setiap kebenaran mengatakan yang sebenarnya,)
Since there are also a truth that hurt.
(Karena ada juga kebenaran yang menyakitkan.)

.

Not all truth are mean being told,
(Tidak semua kebenaran yang berarti diberitahukan,)
Not all truth will ended good,
(Tidak semua kebenaran akan berakhir baik,)
And not all truth lead to peace.
(Dan tidak semua kebenaran mengarah ke perdamaian.)
Yet many people was ask for it,
(Namun banyak orang yang menanyakan hal itu,)
Till their ego reject every fact of it.
(Hingga ego mereka menolak setiap fakta itu.)

.

No one able change the truth,
(Tidak ada yang bisa merubah kenyataan,)
That hurt yourself, or even the others,
(Yang menyakiti dirimu sendiri, atau bahkan orang lain,)
It doesn’t matter how you try to reject them,
(Tidak peduli bagaimana kau mencoba untuk menolak mereka,)
Or it doesn’t matter if you are the only one who know,
(Atau tidak peduli jika kau adalah satu-satunya yang tahu,)
The truth will come without knocking, and change you.
(Kebenaran akan datang tanpa mengetuk, dan mengubahmu.)

.

Maybe that is how the story began,
(Mungkin itu adalah bagaimana cerita dimulai,)
Or that is how the story eventually begin.
(Atau itu adalah bagaimana cerita akhirnya dimulai.)
Each time the truth slapped you, ego are reaching,
(Setiap kali kebenaran menamparmu, ego yang mencapai,)
Each time the truth hurting you, you changed,
(Setiap kali kebenaran menyakitimu, kau berubah,)
And with day that passing, you become your own history.
(Dan dengan hari yang berlalu, kau menjadi sejarahmu sendiri.)

.

History that created from each your story,
(Sejarah yang dibuat dari setiap cerita mu,)
Each story that remain to be your origin,
(Setiap cerita yang tersisa menjadi asalmu,)
And each origin will bring in a meaning,
(Dan setiap asal usul akan membawa arti,)
Yet each meaning eventually changed,
(Namun setiap makna akhirnya berubah,)
Each time the story passing.
(Setiap kali cerita melewati.)

.

Passing to your precious friends that you can trust,
(Melewati teman-teman berhargamu yang dapat kau percaya,)
And believe that they never turn against you.
(Dan yakin bahwa mereka tidak pernah berbalik melawanmu.)
While each your friends trying to understand,
(Sementara setiap teman-temanmu mencoba untuk memahami,)
The one thing you let them to know,
(Satu hal yang kau membiarkan mereka tahu,)
Seem like many has fail to even listen, a single truth.
(Tampaknya banyak yang telah gagal bahkan mendengarkan, satu kebenaran.)

.

As result none of them truly understand,
(Sebagai akibatnya tidak satupun dari mereka benar-benar memahami,)
Well, how could they, when they don’t know the truth.
(Nah, bagaimana bisa mereka, ketika mereka tidak tahu yang sebenarnya.)
They only hear what suits them & listen only to respond,
(Mereka hanya mendengar apa yang cocok untuk mereka & mendengarkan hanya untuk menanggapi,)
But still judging you like they know everything.
(Tapi tetap menilaimu seperti mereka tahu segalanya.)
They do know everything, yet not every last truth.
(Mereka tahu segalanya, namun tidak setiap kebenaran terakhir.)

.

No one has the right to judge,
(Tidak ada yang memiliki hak untuk menghakimi,)
Because no one really know,
(Karena tidak ada yang benar-benar tahu,)
What you have been through.
(Apa yang kau telah lalui.)
They might have heard the stories,
(Mereka mungkin sudah mendengar cerita,)
But they didn’t feel what you felt in your heart.
(Tapi mereka tidak merasakan apa yang kau rasakan di dalam hatimu.)

.

Within the story always have story,
(Dalam cerita selalu memiliki cerita,)
There are not much difference on surface,
(Ada banyak perbedaan di permukaan,)
Yet which one is telling a lie,
(Namun mana yang berbohong,)
And which one is telling the truth,
(Dan mana yang mengatakan yang sebenarnya,)
Not much people can tell.
(Tidak banyak orang tahu.)

.

Whether it is just story telling,
(Apakah itu hanya story telling,)
Or it is what actually happen,
(Atau itu adalah apa yang sebenarnya terjadi,)
They just can’t open up the story,
(Mereka hanya tidak bisa membuka cerita,)
From unwritten diary & go to page 973,
(Dari diary tidak tertulis & pergi ke halaman 973,)
And think they know you.
(Dan berpikir mereka tahu kamu.)

.

Within the truth always have truth,
(Dalam kebenaran selalu memiliki kebenaran,)
There are a lot difference behind them,
(Ada banyak perbedaan di belakang mereka,)
Yet what make those truth was right & wrong,
(Namun apa yang membuat kebenaran yang benar & salah,)
When even within the light still darkness?
(Ketika bahkan dalam cahaya masih ada kegelapan?)
The answer is simple, like it or hate it.
(Jawabannya sederhana, suka atau benci.)

.

The biggest lesson we’ve learned this year,
(Pelajaran terbesar yang kita pelajari tahun ini,)
Is that no one is really ours friend,
(Adalah tidak ada yang benar-benar menjadi teman kita,)
Or truly loves us until they’ve seen,
(Atau benar-benar mengasihi kita sampai mereka melihat,)
Every dark shadow inside us,
(Setiap bayangan gelap di dalam diri kita,)
And stayed.
(Dan stayed.)

.

Yet in reality, many has leave behind,
(Namun dalam kenyataannya, banyak yang telah pergi,)
Disgust by every dark shadows that we called “truth.”
(Muak oleh setiap bayangan gelap yang kita sebut “kebenaran.”)
Of course you hate those kind of people,
(Tentu saja kau membenci jenis orang,)
who tell you that “you’ve changed,”
(yang mengatakan bahwa “kau sudah berubah,”)
When they never even knew you at all.
(Ketika mereka bahkan tidak pernah tahu kau sama sekali.)

.

Only telling a story, being called “liars,”
(Hanya menceritakan sebuah kisah, menjadi dipanggil “pembohong,”)
Only telling the truth, being called “disgusting,”
(Hanya mengatakan yang sebenarnya, menjadi dipanggil “menjijikkan,”)
Telling a story with the truth, being called “drama queen,”
(Menceritakan cerita dengan kebenaran, menjadi dipanggil “drama queen,”)
And telling a story with a lie, many has listening,
(Dan menceritakan cerita dengan kebohongan, banyak yang telah mendengarkan,)
Causing an imagination that they think, they know us better.
(Menyebabkan imajinasi yang mereka pikir, mereka tahu kita lebih baik.)

.

Every story holding a single truth,
(Setiap cerita memegang satu kebenaran,)
The truth that you let them know,
(Kebenaran bahwa kau membiarkan mereka tahu,)
And the truth you still keep for yourself.
(Dan kebenaran yang kau masih simpan untuk dirimu sendiri.)
Sometimes better to be Slapped with the truth,
(Terkadang lebih baik Ditampar dengan kebenaran,)
Than kissed with a lie.
(Dibanding dicium dengan kebohongan.)

.

Yet always prepare yourself for the worst scenario,
(Namun selalu persiapkan dirimu untuk skenario terburuk,)
Because the truth you going to tell not only could deepen the bond,
(Karena kebenaran yang kau akan beritahukan tidak hanya bisa memperdalam ikatan,)
But also could destroy it.
(Tapi juga bisa menghancurkannya.)

 

 

By: Resaid of Story

Unmask Book

unmask-book

Unmask Book

 

Life is like a Book, Some Chapters are Sad,
(Hidup itu seperti Buku, Beberapa Bab itu Sedih,)
Some are Happy & Some are Exciting,
(Beberapa Senang & Beberapa Seru,)
But if you never turn the Page,
(Tapi jika kau tidak pernah membalik Halaman,)
You’ll never know what the next Chapter,
(Kau tidak akan pernah tahu apa yang Bab selanjutnya,)
Has in Store for you.
(Yang mereka Simpan untukmu.)

.

And if your life were like a Book,
(Dan jika hidupmu seperti Buku,)
What do you think of it?
(Apa yang kau pikirkan tentang itu?)
People could Understand you,
(Orang bisa Mengerti dirimu,)
Simply by reading them, right.
(Hanya dengan membaca mereka, kan.)
But, what happened to your Mask?
(Tapi, apa yang terjadi pada Topengmu?)

.

How we are Living may not much Different.
(Bagaimana kita Hidup mungkin tidak jauh Berbeda.)
Born in this World without wearing a Mask,
(Lahir di Dunia ini tanpa menggunakan Topeng,)
Got Hurt & standing between Facade or Revenge.
(Tersakiti & berdiri diantara Fasad atau Dendam.)
Live life like some sort of Book that piling up,
(Menjalanin hidup seperti semacam Buku yang menumpuk,)
And reading every Chapter that never ending.
(Dan membaca setiap Bab yang tidak ada akhirnya.)

.

How everything can happen that way?
(Bagaimana segalanya bisa terjadi seperti itu?)
That is another Story, another Reason,
(Itu Cerita lainnya, Alasan lainnya,)
Which is only you that know the Story.
(Yang mana kau adalah satu-satunya yang tahu Ceritanya.)
Since this is your Story, not my Story,
(Sejak ini adalah Ceritamu, bukan Ceritaku,)
Don’t Write it down on your Facade.
(Jangan Menulisnya diatas Fasadmu.)

.

Because some people trying to read them,
(Karena beberapa orang mencoba untuk membacanya,)
Yet, there is some who could tell the Difference,
(Namun, ada beberapa yang bisa memberitahu Perbedaannya,)
Between your Facade Story or your Story.
(Diantara Cerita Fasadmu atau Ceritamu.)
It’s not that easy to keep the Book close,
(Ini tidaklah mudah untuk menjaga Buku tetap tertutup,)
When the Storms just keep coming.
(Ketika Badai terus menerus datang.)

.

It Different Story when you keep the Book open,
(Lain Cerita ketika kau membiarkan Buku terbuka,)
Letting the Wind blow your Chapter slowly,
(Membiarkan Angin menium Babmu perlahan,)
And making another person easier to reading.
(Dan membuat orang lain dengan mudah membacanya.)
Even you putting those Facade Mask on,
(Walau kau menggunakan Topeng Fasad itu,)
To hide your Tears & create such a Smile.
(Untuk menyembunyikan Air Matamu & membuat Senyum seperti itu.)

.

But just what you trying to hide,
(Tapi apa yang kau coba untuk sembunyikan,)
When everything written on your Mask,
(Ketika segalanya tertulis diatas Topengmu,)
Is it the same pointless Mask you put on,
(Apakah itu Topeng tak ada gunanya yang sama kau pakai,)
Or it just the Mask start to Betray yourself.
(Atau itu hanyalah Topeng mulai Mengkhianati dirimu sendiri.)
Just which one is it? No one could tell.
(Hanya saja yang mana? Tidak ada yang bisa memberitahu.)

.

Is this the Mask fault, or the Book,
(Apa ini kesalahan Topeng, atau Buku,)
Where usually you know what genre is it?
(Dimana biasanya kau tahu genre apa itu?)
Is this Love Story or Sad Story,
(Apakah ini Cerita Cinta, atau Cerita Sedih,)
Is this Drama Story, or Action Story,
(Apakah ini Cerita Drama, atau Cerita Aksi,)
Is this Adventure Story, or Sci-fi Story,
(Apakah ini Cerita Petualangan, atau Cerita Sci-fi,)

.

That tell the whole Story of your Life.
(Yang menceritakan keseluruhan Cerita Hidupmu.)
One question, “From where you read them?”
(Satu pertanyaan, “Dari manakah kau membacanya?”)
The Previous Chapter, where you see your Pain.
(Dari Bab Sebelumnya, dimana kau melihat Rasa Sakitmu.)
The Mid Chapter, where you leave your Bookmark.
(Dari Bab Tengah, dimana kau meninggalkan Bookmarkmu.)
Or the Next Chapter, where you still Wondering.
(Atau Bab Selanjutnya, dimana kau masih Bertanya-tanya.)

.

How the Story of your Life will go after all this.
(Bagaimana Cerita dari Hidupmu akan pergi setelah semua ini.)
Yet you can’t start the Next Chapter of your Life,
(Namun kau tidak bisa memulai Bab Selanjutnya dari Hidupmu,)
If you keep re-reading the Last One with Facade.
(Jika kau terus membaca lagi Yang Terakhir kali dengan Fasad.)
But at least you do understand your own Story,
(Tapi setidaknya kau mengerti Ceritamu sendiri,)
How about another person? or the closest one?
(Bagaimana dengan orang lain? atau orang terdekat?)

.

Do you know of their Story,
(Apa kau tahu Cerita mereka,)
Not all about their Past Story,
(Bukan tentang semua Cerita Masa Lalunya,)
It just simple how they reach to you,
(Ini hanya simple bagaimana mereka meraihmu,)
When they come at the Darkest hours,
(Ketika mereka datang di Jam-jam Tergelap,)
Did you even recognize which one is the Real One.
(Apa kau mengenali yang manakah yang Asli.)

.

Sometime we just want people to Understand Us,
(Terkadang kita hanya ingin orang untuk Mengerti Kita,)
Without Considering that they need them too,
(Tanpa Mempertimbangkan mereka juga membutuhkannya,)
And start to tell the wrong Story without Understand.
(Dan mulai menceritakan Cerita yang salah tanpa Mengerti.)
Never tell a Story of others that you don’t Understand,
(Jangan pernah menceritakan Cerita orang lain yang tidak kau Mengerti,)
But try to Ask & Understand it.
(Tapi cobalah Bertanya & Mengertilah.)

.

Even so, not all Book were easy to Read & Understood.
(Meski begitu, tidak semua Buku mudah untuk Dibaca & Dimengerti.)
There are people who Write their Life like an Ancient Time,
(Ada orang yang Menulis Hidup mereka seperti Masa Kuno,)
Some are Writing like Legendary History that Lost in Time,
(Beberapa Menulis seperti Sejarah Legenda yang Hilang dalam Waktu,)
And only few people that Write their life by their Unique.
(Dan hanya sedikit orang yang Menulis hidup mereka oleh Keunikan mereka.)
Your Mask & Facade are doesn’t count, & that is what make Complicate.
(Topengmu & Fasad tidaklah dihitung, & itulah yang membuat Complicate.)

.

If I were a Book, I just wondering.
(Jika aku sebuah Buku, aku hanya bertanya-tanya.)
Which of these Books tell about me?
(Yang manakah dari Buku-buku tersebut yang menceritakan tentangku?)
Since you know every Story I have,
(Semenjak kau tahu semua Cerita yang aku punya,)
But you still don’t Understand,
(Tapi kau masih tidak Mengerti,)
How to read the Story of my Life.
(Bagaimana kau membaca Cerita Hidupku.)

.

What did you looking on the Mask?
(Apa yang kau lihat pada Topeng?)
And How do you trying to Reading?
(Dan Bagaimana kau mencoba untuk Membacanya?)
It’s not easy to Understand me,
(Ini tidaklah mudah untuk Mengerti aku,)
When what you see is only a Mask,
(Ketika apa yang kau lihat hanyalah Topeng,)
That I never Wear.
(Yang tidak pernah aku Pakai.)

.

True enough I’ve been Hurt in the Past,
(Cukup Benar aku pernah Tersakiti di Masa Lalu,)
That is why I’ve the Mask that I keep hold.
(Itulah mengapa aku punya Topeng yang aku terus genggam.)
Tremble between Present that always try to Shatter,
(Berguncang diantara Masa Kini yang selalu mencoba untuk Menghancurkan,)
Since I always trying to alter all the Emotion that I have.
(Semenjak aku selalu mencoba untuk mengubah semua Emosi yang aku punya.)
And looking Forward for the Future I had.
(Dan melihat Kedepan untuk Masa Depan yang aku miliki.)

.

With the step that I always take to move,
(Dengan langkah yang selalu aku ambil untuk bergerak,)
With the Mask & Hope that I always hold,
(Dengan Topeng & Harapan yang aku selalu genggam,)
And with the way I Respond to be who I am now.
(Dan dengan caraku Merespont untuk mejadi diriku sekarang.)
I’m sure you couldn’t understand,
(Aku yakin kau tidak bisa mengerti,)
Until you seeing thing from my point of view.
(Sampai kau melihat hal dari sudut pandangku.)

.

Silent Book was Mysterious,
(Buku Hening adalah Misterius,)
Even their Eyes could say Nothing,
(Bahkan Mata mereka bisa mengatakan Nothing,)
As the Mouth that keep Shut.
(Sebagaimana Mulut yang tetap Tertutup.)
The Feet that make a Step,
(Kaki yang membuat Langkah,)
And the Hand, that keep Waiting.
(Dan Tangan, yang terus Menunggu.)

.

Maybe that is the kind of Book I am.
(Mungkin aku adalah Buku semacam itu.)
The kind of Facade Mask in my Left hand,
(Semacam Topeng Fasad di tangan Kiriku,)
That I never wear at the very least.
(Yang tidak pernah aku gunakan setidaknya.)
The kind of Small Hope in my Right hand,
(Semacam Harapan Kecil di tangan Kananku,)
That I never expect thing to be right.
(Yang tidak pernah aku harapkan hal menjadi benar.)

.

Problem between the Book & the Reader,
(Masalah diantara Buku & Pembaca,)
Is not about you couldn’t Read them,
(Bukanlah tentang kau tidak bisa Membaca mereka,)
Is not about you couldn’t tell the Different,
(Bukanlah tentang kau tidak bisa mengetahui Bedanya,)
But it’s just you that keep Reading the same Chapter,
(Tapi ini hanyalah dirimu yang terus Membaca Bab yang sama,)
As the First Chapter that you ever Meet.
(Seperti Bab Pertama yang pernah kau Temui.)

.

Sometime you don’t need to keep Reading,
(Terkadang kau tidak perlu terus Membaca,)
The same Page to Understand the others besides yourself.
(Halaman yang sama untuk Mengerti orang lain selain dirimu sendiri.)
Try to Read the next Page, & you will Understand them.
(Cobalah untuk Membaca Halaman selanjutnya, & kau akan Mengerti mereka.)
Seek the Reason behind their Mask & Facade Story,
(Mencari Alasan dibalik Topeng mereka & Cerita Fasad,)
It will help you, to Understand them even more.
(Akan membantumu, untuk lebih Mengerti mereka.)

.

I didn’t say it make Easier,
(Aku tidak mengatakan ini membuat Semakin Mudah,)
But whether you Give Up,
(Tapi apakah kau Menyerah,)
Or keep Reading to Understand it,
(Atau terus Membaca untuk Mengerti,)
To the people you Care about the Most.
(Kepada orang yang Paling kau Pedulikan.)
Is Up to You.
(Itu Terserah Padamu.)

.

Just remember the Reason why you Start it,
(Hanya saja ingatlah Alasan kenapa kau Memulainya,)
If in the end you just Giving up like this.
(Jika pada akhirnya kau Menyerah seperti ini.)

 

 

By; Resaid of Story